Random Talk

Sampai Jumpa di Lain Hari, Ku Relakan Dirimu Pergi

kepergian Eril anak Kang Emil
(sumber: tangkapan layar IG @dheoramdana)

Pagi itu, berita hilangnya Eril langsung menggema ke seluruh penjuru negeri. Dikabarkan, putra Kang Emil tersebut tenggelam di Sungai Aare. Inget banget saat itu Kamis 26 Juni, Eril bersama Zara (adiknya), dan temannya berenang di Sungai Aare.

Sepertinya semua sudah tahu ceritanya kan?

Kayanya aku ngga perlu reka ulang lagi panjang lebar deh.

Eril adalah Anak Kita Semua

Indonesia berduka. Aku jadi ingat tenggelamnya kapan Nanggala 402 beberap waktu lalu. Perasaan kali ini sama dengan saat itu. Berdebar setiap hari menunggu berita baik.

Banyak seliweran berita-berita hoax, banyak spekulasi ini itu yang bikin semakin meresahkan. Aku seseorang yang dikaruniai bleeding heart ini tak hentinya memikirkan Eril.

Bukan temanku, bukan kenalanku, bukan adikku, bahkan bukan anakku. Bukan siapa-siapaku. Tapi siapa sih yang ngga ikut mendoakannya?

Aku membayangkan bagaimana rasanya tenggelam aja seperti udah kehabisan napas. Ikutan sesak!

Eril adalah anak kita semua. Tentu saja, hanya nurani yang tak berbohong. Ngga bisa pura-pura ngga mau tahu sama berita ini.

Aku memosisikan diriku sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya. ya Allah, anak sakit aja rasanya badan udah ikutan rontok. Bagaimana kalau anakku yang hilang? Anakku ngga pulang?

Tak ada yang lebih menyiksa daripada menunggu ketidakpastian.

Aku pernah merasakan cemasnya menunggu kabar. Saat itu pesawat yang ditumpangi suamiku terlambat mendarat. Beberapa jam dia tak bisa dihubungi. Saat itu barengan sama berita Sriwijaya jatuh.

Rasanya menunggu kabar itu seperti kepala mau pecah, jantung berdebar tak terkendali, hanya bisa melafalkan doa apa saja yang terlintas di kepala. Alhamdulillah dia mendarat dengan selamat. Hanya berputar-putar di atas karena cuaca tak baik.

Memang benar, rasa kehilangan terasa begitu dekat saat seseorang tak di samping kita. Jadi bersyukurlah kalau kalian bisa bersama seseorang yang kalian sayangi setiap hari. Katakan pada mereka, kalau kamu menyayanginya, sebelum kamu tak bisa mengatakannya.

Tabah Sampai Akhir

(sumber: tangkapan layar IG bu Cinta)

Ril… mamah pulang dulu ke Indonesia, ya..

Mamah titipkan kamu dalam penjagaan dan perlindungan terbaik dari pemilikmu yang sebenarnya, Allah swt, dimana pun kamu berada…

Insya Allah kamu tidak akan kedinginan, kelaparan atau kekurangan apapun. Bahkan kamu akan mendapatkan limpahan kasih sayang, karunia dan kebahagiaan yang tak pernah putus.

Disini, di sungai Aare yang luar biasa indah dan cantik ini, mamah lepaskan kamu, untuk kita bertemu lagi cepat atau lambat.

Seperti yang pak walikota sampaikan,

“The city of Bern will forever be deeply connected to us…”

Doa terbaik mamah dalam setiap helaan nafas,

Atalia
Aare River, Juni 2022

Tabah sampai akhir.

Membaca pesan bu Cinta itu, bagaimana tak membuat mata ini basah. Hati seorang ibu yang akhirnya bisa merelakan kepergian anaknya. Seorang ibu yang mengembalikan ‘titipan’ pada penitipnya, penciptanya, pemiliknya.

“Seorang istri yang ditinggal mati suaminya disebut janda. Seorang suami yang ditinggal mati istrinya disebut duda. Seorang anak yang ditinggal ibunya disebut piatu. Anak yang ditinggal mati ayahnya disebut yatim. Tetapi tidak ada sebutan untuk ibu yang ditinggal mati anaknya. Karena tidak ada kata-kata yang bisa mewakili rasanya.” 

Tak ada kata yang bisa menjabarkan bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak. Saat kita berpikir kelak saat tiada nanti, anak-anak yang akan merawat jenazah cinta penuh cinta. Tapi, kini malah kita yang ditinggal pergi duluan. Tak ada sebutan untuk ibu yang ditinggal anaknya terlebih dulu. Tak ada yang bisa mewaikili rasa itu..

Sekuat-kuatnya kita berpura-pura tabah, hati seorang ibu tak bisa dibohongi.

Sampai Jumpa di Lain Hari, Ku Relakan Dirimu Pergi

Hey, sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Kurelakan dirimu pergi
Meskipun ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Kuharap terbaik untukmu

Apakah ada hikmah bagi kita?

Keluarga Kang Emil sungguh menunjukkan ketegaran luar biasa. Sebenarnya apa yang ingin Allah sampaikan pada kita melalui beliau?

Siapa sih yang ngga pingin kumpul keluarga secara utuh?

Saat aku sedang melupakan nikmat berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat, padahal di seberang sana ada yang sedang berduka.

Kadang hal kecil sepeti ini luput dari rasa syukur kita, karena kita sudah menikmatinya setiap hari. Sampai melupakan sejatinya nikmat sederhana ini begitu mahal.

Terlalu banyak ingin macam-macam, merasa tak cukup dengan segala yang dimiliki.

Padahal selama di meja makan masih  ada sesuatu yang bisa dimakan, selama keluarga masih utuh, tak ada yang pantas kita risaukan.

Melalui keluarga Kang Emil, seperti teguran keras dari Allah. Ah, hati ini rasanya tersentil hebat.

Aku membaca sebuah kutipan Kang @vansophi,

Kalau ada yang bertanya kenapa harus Akang yang mengalami ini, saya teringat masa-masa sekolah dulu. Hanya murid terpintar yang disuruh maju untuk menjawab soal-soal yang paling sulit. Akang manusia hebat yang Allah pilih untuk menghadapi ujian berat, agar kami-kami yang bodo dan lemah ini bisa ambil pelajarannya tanpa harus menempuh ujiannya.

Sepertinya aku sendiri tak akan mampu kalau diberi ujian seperti yang Kang Emil sedang hadapi.

Semoga Allah melindungi Kang Emil sekeluarga, meninggikan derajatnya, memberi kesahatan, dan kesabaran dalam menghadapi ujian kenaikan kelas yang luar biasa hebat ini.

Peluk sayang buat bu Cinta dan Zara. Semoga bisa segera berkumpul, kalau tidak untuk saat ini, insya Allah nanti.

“Hidup di dunia ini sesungguhnya adalah tentang perjalanan bukan tujuan. Dan seperti cerita setiap perjalanan, kisah selalu dimulai dari sebuah titik awal. Dan kisah akan selesai di sebuah titik akhir, dan untuk setiap yang datang, pasti akan ada saatnya untuk kembali pulang” (Kang Emil)

Malang, 8 Juni 2022

Baca Juga: Cinta Saja Tak Cukup Untuk Merawat Pernikahan

The Kurniawans adalah sebuah catatan keluarga, jelajahi kisah pengasuhan, perjalanan, dan semua cerita menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.