Marriage Life

Cinta Saja Tak Cukup Untuk Merawat Pernikahan

cinta saja tak cukup untuk merawat pernikahan

Masih bulan Mei kan? Meskipun hampir di penghujungnya, tak apa kan kalau hanya ingin mengingatkan bulan ini anniversary kami yang ke-8. Wohaaaa! Kenapa tiba-tiba ingin menuliskannya? Gara-gara ikut euforia dek Maudy Ayunda kawin juga kah? Hehe.

Obrolan Random di Tengah Jalan

Kami bukan pasangan yang harus merayakan suatu moment spesial berkali-kali. Aku sendiri bahkan lupa tanggal ulang tahun anakku si Middle Love! Lah, dia sih lahirnya bulan Desember sendiri, kaga ada barengannya hahaha.

Kalau si Mas kan bareng aku bulan September. Sedangkan si genduk, bulan April bareng bapaknya.

Oke, jadi sore itu aku dan Mr.K lagi disuruh ibuk buat nganterin berkat ke rumah saudara-saudara. Acara maleman menjelang lebaran kan kalau di kampung ada ater-ater berkatan gitu. Jadi kami naik motor aja lah, biar ngga macet dan ngejar waktu buka juga.

Ngga di mobil, di rumah, di motor ya tetep aja kita ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari ngebahas saudara yang mau nikahan, sampai ngebahas temennya yang mau cerai. Aku langsung ingat dong kalau saat itu tanggal 3, dan langsung nyeletuk,

“Heiii. Besok kita annivers lho, btw!”

Kami bengong sesaat.

“oh iya. Tanggal berapa besok?” tanya dia.

Aku jitak helm-nya. Dasar nih anak. Kumat deh.

“ngga kerasa ya Yang. Delapan tahun lho, and still counting insya Allah, kata Mr.K

“hmm, bonus pacaran 4 tahun lah. Bosen ngga? tanyaku. Random banget sih.

“insya Allah ngga lah. Kan juga kadang ngga ketemu.”

Yah, bagi kami pasangan setengah LDM ini memang kadang ngga ketemu kalau dia lagi on duty. Bekerja di lepas pantai kepualauan Natuna, membawanya pergi sebulan sekali dan pulang juga sebulan sekali.

Buatku yang memang cuma berselisih beberapa bulan lahir, seperti something lucky I’m in love with my bestfriend yah. Jadi, sering berantem juga biasa banget.

Makanya, kalau dia kerja jadi semacam ada jeda buat kami untuk menarik napas hahaha. Ada jarak yang kadang membuat kami rindu dan tentu saja tak setiap hari bisa bersua.

Bak Kucing Dalam Karung

“Selamat menempuh hidup baru..”

Kenapa orang yang menikah, selalu dapat ucapan kek gitu? Kadang ada guyonan yang kaya, “capek nih kuliah, pengen nikah aja”, atau “bosen deh jomlo, pengen ada yang nafkahin”.

Mereka pikir bisa lari dari masalah yang sekarang, dan short cut-nya ya menikah itu. Ternyata eh ternyata, menikah lebih berat lho. Kamu bakal beneran “beneran menempuh hidup baru!”

Meskipun kamu merasa udah kenal dekat dengan calon suamimu (kek aku yang udah pacaran sebelum menikah), nyatanya hidup bersama satu atap juga punya kisahnya sendiri.

Ada saat-saat manis bagai di surga (halah kaya udah pernah ke surga, wkwk), tapi ada kalanya aku seperti sama sekali ngga mengenal suamiku karena seperti menemukan orang lain yangg ngga pernah ku kenal sebelumnya.

Bak memilih kucing dalam karung?

Semua watak dan diri seseorang sesungguhnya baru nampak kalau kita udah tinggal bareng, hidup setiap hari 24 jam bersamanya. Aku yang bahkan udah mengenal banget suamiku, anggaplah udah tahu baik buruknya lho. Ada saat-saat seperti aku tinggal dengan orang lain, kalau aku tak pandai menyesuaikan diri dan menerima saat-saat tersebut.

Memang ngga ada acuan tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengenal seseorang. Hitungan tahun bukan jaminan. Bahkan ada temenku yang taaruf dengan perjodohan singkat pun, ternyata suaminya baeeekk banget! Bisa ngalah banget dan sabar.

Kalau pacaran kan kebanyakan pasangan menikmati waktu berdua yang hepi-hepi aja tuh. belum menggali peran masing-masing dalam hunbungan keluarga. Ngga tahu harga susu dan popok. Ngga denger suara token sama wifi yang tiba-tiba mati.

Apalagi kan kita diasuh dengan dua orang tua berbeda latar belakang, budaya dan cara mendidik. Jelas aja kita menikahi seseorang juga menikahi keluarganya.

Lalu apakah tahun-tahun berikutnya akan lancar?

Kamu yang menentukan!

Merawat Pernikahan

Pernah ada jokes sama temen-temen kalau cinta setelah menikah tuh hanya bertahan selama satu atau dua tahun aja. Sisanya adalah komitmen. Gitu ya?

Bisa ngga sih kita mencintai orang yang sama setiap hari? Kalau bisa kenapa angka perceraian bisa tinggi? Apa ada yang salah?

Tahu ngga kalau tren perceraian di Indonesia semakin meningkat. Bahkan penelitian oleh American Psychological Association menunjukkan 50% pasangan di Amerika bercerai. Di mana pasangan yang masih bertahan, banyak di antaranya yang merasa ngga bahagia dengan pernikahannya.

Jadi menurutku, salah satu ilmu penting yang harus terus ku upayakan adalah ilmu tentang merawat pernikahan.

Kenapa?

Mungkin saat ini kita masih disibukkan dengan mendidik dan membesarkan anak. Mendampingi tumbuh kembang mereka sampai kelak siap dilepaskan terjun ke kerasnya kehidupan ini, tsaaah.

Kelak kalau mereka pada pergi dan pada punya anak sendiri, balik lagi kita berdua cuma sama suami. Ya kan?

Karena Menikah tak Pernah Mudah, Tapi Terlalu Indah untuk Melewatkannya

Membangun rumah tangga dalam sebuah pernikahan itu seperti membangun konstruksi rumah. Suami dan istri perlu bekerja sama dalam membangun fondasi yang kokoh dalam membina rumah tangga mereka.

Dalam pernikahan juga tidak selamanya bahagia, terkadang Allah pun akan memberikan ujian. Sebagai pasangan suami istri, sudah seharusnya dapat melewati ujian bersama dengan cara yang tepat. Sehingga kita dapat merawat pernikahan bukan hanya ketika bahagia, tetapi juga ketika diberi ujian.

Kami menyadari, bahwa kelak kami akan ditanya, kami yang akan bertanggung jawab terhadap anak-anak kami. Apakah kami telah mengajarkan agama yang baik pada anak-anak kami.

Apakah kami sudah mengenalkan Allah dengan benar? Bagaimana cara kami mengajakan adab dan menyelesaikan konflik. Sungguh semua akan dipertanggung jawabkan.

Melihat keadaan akhir zaman seperti sekarang, nikah cerai seolah menjadi hal yang wajar, suami selingkuh, anak salah pergaulan, broken home, MBA, kurang kasih sayang dan konflik lain dalam rumah tangga.

Menjalani rumah tangga bukan hanya dalam hitungan hari, melainkan selamanya.

Tak Perlu Alasan untuk Saling Mencinta?

Jika menikah hanya perkara cinta, rumah tangga bisa mudah rapuh ketika Allah membalikkan hati yang tak lagi utuh.

“Seperti padamu hati yang jatuh, inginnya berkali tapi jangkar bersauh. Kita perlu jeda, karena tanpa-Nya, cinta saling meniada”

(Rika Ekawati)

Jika menikah karena lelah hidup dengan orang tua, mungkin juga dalam rumah tangga akan mengulang kesalahan yang sama. Apakah kamu bisa menjamin pendamping yang lebih baik dari orang tuamu?

Jika menikah tujuannya dunia, tak akan pernah berujung dengan kata cukup. Kecantikan, kemewahan, dan semua keserakahan akan ada batas waktunya. Seandainya manusia diberi satu lembah penuh emas, dia pun akan menginginkan yang kedua.

Menikah adalah seni berkomunikasi, dan saling mengalah. Tak hanya pada suami, tapi pada orang tua, anak, bahkan tetangga.

Menikah adalah memahami, saling memberi dan menerima. Kita ngga bertanggung jawab pada diri sendiri saja, bagaimana kita bisa menempatkan peran sebagai ibu, istri, bahkan perempuan.

Menikah lah dengan alasan mencinta karena Allah. Agar kelak bisa berkumpul bersama di surga-Nya.

Till Jannah We’ll be Together Again

Semua pengalaman, suka maupun duka dijalani berdua bersama pasangan. Saling membantu dan mengasihi, berbagi tanggung jawab dan saling menguatkan. Berumah tangga bukan hanya untuk sehidup semati namun sehidup sesurga.

Maka dari itu kami perlu merawat pernikahan. Bukan sampai maut memisahkan kami, tapi sampai di surga kami dipertemukan kembali. Langgeng dunia akhirat. Bukan till death do us apart but till jannah we’ll be together again.

“Jodoh itu adalah rezeki, yang kalau kamu dapatkan dengan jalan halal (menikah) maupun haram (pacaran), dapatnya itu-itu juga. Yang membedakannya adalah keberkahannya. Pantaskan diri berikhtiar menjadi lebih baik untuk mendapatkan jodoh yang terbaik.

Bila mencinta hanya alasan dunia, maka akan berhenti saat salah satunya tiada.

Sedang ia yang paling setia, adalah yang menyematkan nama dalam setiap doa. Dan menjadikan Allah sebagai alasan puncak cintanya dalam taqwa.”

Selamat merawat pernikahan dan bertemu lagi kelak di surga-Nya. Aamiin.

The Kurniawans adalah sebuah catatan keluarga, jelajahi kisah pengasuhan, perjalanan, dan semua cerita menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.