
“Sayang, kamu udah kepikiran ngga…biaya lahiran nanti bakal segimana?”
Pertanyaan itu muncul begitu saja, malam itu. Di antara tumpukan buku parenting, buku seputar lahiran gentle birth, dan secangkir teh hangat yang hampir dingin. Kita sama-sama terdiam. Bahagia? Jelas! Deg-degan? Banget! Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang ngga bisa cuma ditenangkan dengan pelukan: masalah finansial.
Menjadi pasangan muda baru, dan calon orang tua, tidak pernah ada sekolahnya. Semua dilukan otodidak dan belajar pelan-pelan. Menyambut anak pertama ngga bisa tanpa persiapan. Kami menikah karena kesiapan, di usia yang matang. Aku ngga mau bayiku lahir, ketika kami belum siap menjadi orang tua.
Bukan soal nama indah dan kamar bayi estetik. Ada angka-angka yang perlu kita bicarakan bareng, dengan kepala dingin namun hati yang hangat.
1. Dana Persalinan: Tenang Itu Mahal, Jadi Kami Siapkan dari Sekarang

“Kalau normal, biayanya beda jauh ya sama caesar?” tanya suamiku.
Suamiku bukan tipe yang ngga mau tahu, semua pengeluaran harus dirinci istri. Justru dia sangat aware sama aku, full support, dan bener-bener cari tahu seputar hamil, persalinan, dan biaya lain-lain setelah melahirkan.
Biaya persalinan memang biasanya jadi pengeluaran terbesar di awal. Soalnya masih belum tahu harus melahirkan pervaginam atau caesar. Aku prefer normal aja lah, lebih mindful hehe. Tapi siapa yang bisa prediksi detik-detik terakhir? Kita boleh punya rencana, tapi Allah yang jadi penentu akhir cerita.
Mau melahirkan di klinik, bidan, atau rumah sakit, semuanya punya kisaran biaya yang berbeda. Apalagi kalau ada tindakan medis tertentu.
Akhirnya kami sepakat bikin simulasi:
- Cek estimasi biaya persalinan di rumah sakit pilihan.
- Sisihkan dana khusus, terpisah dari tabungan harian.
- Pastikan tahu detail manfaat BPJS atau asuransi yang kami punya.
Kami sepakat menyiapkan dana darurat. Karena realitanya, proses persalinan ngga selalu sesuai sama rencana di kepala. Kalau aku mesti panik karena pengalaman kontraksi pertama, aku ngga mau panik masalah teknis seperti biaya.
Aku hanya mau fokus menyambut tangisan pertama buah hati yang sudah ku tunggu, bukan sibuk mikirin “uangnya cukup ngga ya?”
2. Perlengkapan Bayi: Antara Cemas dan Gemas

Jujur aja, bagian ini juga menguji iman. Harap maklum jadi mom to be tuh godaannya gede hehehe.
“Lucu banget deh, yang.. liat deh bajunya unyu-unyu buat dedek..”
“Eh ini perlu ngga yaaa..?”
Serius, galau banget membedakan kebutuhan dan keinginan emaknya. Bayi emang butuh banyak hal, tapi bukan yang harus baru dan mahal. Seperti stroller atau car seat gitu, untung aku dapet pinjaman dari saudaraku yang udah ngga kepake.
Akhirnya aku bikin daftar prioritas.
Menurutku ini benar-benar penting di awal:
- Pakaian secukupnya (bayi cepat banget tumbuhnya!)
- Popok dan toiletris
- Tempat tidur yang aman (box bayi)
- Perlengkapan menyusui
- Peralatan kesehatan dasar (termometer, perlengkapan kompres)
Kami juga bikin anggaran perlengkapan bayi biar ngga boncos. Bahaya banget kalau beli-beli cuma karena “lucu banget”!
Dan ternyata banyak kok yang bisa dipinjam dari keluarga atau beli preloved dengan kondisi bagus. Ngga akan mengurangi cinta kami sama si dedek.
3. Biaya Aqiqah: Menyambut Anak dengan Menjalankan Syariat
Di sela obrolan, suamiku bertanya pelan, “Nanti aqiqahnya kita pingin gimana?”
Buat kami, aqiqah bukan hanya sekadar tradisi, tapi bentuk syariat yang harus ditunaikan. Kami ngga mau menunda terlalu lama. Ini adalah bentuk syukur kepada Allah atas titipan amanah dari surga. Bila anak kami laki-laki dianjurkan dua ekor, dan untuk perempuan satu ekor.
Kami mulai mencari tahu juga seputar info paket aqiqah di sekitar sini. Harganya juga variatif, tergantung layanan—apakah sudah termasuk masak dan distribusi atau belum.
Dari situ, kita sepakat:
- Masukkan biaya aqiqah dalam rencana keuangan sejak masa kehamilan.
- Sisihkan sedikit demi sedikit tiap bulan, supaya nggak terasa berat.
- Pilih penyedia jasa yang amanah dan jelas prosesnya.
Akhirnya atas rekomendasi saudara aku memilih jasa aqiqah di JADETABEK. Kami ingin ngerencanain aqiqah dengan tenang tanpa ribet. Maka kami memilih Barokah Aqiqah yang sudah eksis sejak tahun 2000, jelas sudah sangat berpengalaman membantu lebih dari puluhan ribu keluarga.
Barokah Aqiqah membantu kami memilihkan kambing yang sehat, penyembelihan juga secara syar’i, higienis, dan praktis, masakannya juga disiapkan oleh chef berpengalaman.
Kami jadi bisa mengalokasikan dana aqiqah sejak dini dalam rencana bulanan. Jadi saat hari-H tiba, kita tinggal fokus pada kesehatan ibu dan bayi, serta menyambut dedek dengan penuh syukur.
Menyambut anak pertama itu seperti membuka bab baru dalam hidup. Dan persiapan finansial adalah salah satu cara kita bilang pada si dedek:
“Nak, sebelum tangisan pertama kamu datang pun, kami sudah berusaha menyiapkan yang terbaik untukmu.”
Nggak harus sempurna. Nggak harus langsung mapan. Yang penting, direncanakan dengan sadar, dijalani dengan kompak, dan diniatkan dengan baik.