Education,  Playground

Dengar Alam Bernyanyi, Cara Asyik Mengenalkan Hutan Kita Sultan pada Anak

Dengar Alam Bernyanyi, Cara Asyik Mengenalkan Hutan pada Anak

“Menanam pohon adalah menanam kebaikan. Kita sering menerima kebaikan dari orang-orang terdahulu, yang menanam pohon untuk kita petik hasilnya sekarang. Karena itu, jangan lupa untuk juga menanam pohon untuk anak cucu.” Honi dan Pohon Carob, halaman 70

Sesungguhnya hari ini kita semua sedang meminjam masa depan dari anak-anak kita. Semua sibuk melakukan penyuluhan dan kampanye pada orang dewasa akan pentingnya melestarikan hutan, lantas siapa yang mau menjelaskan peranan hutan ini pada anak-anak?

Padahal kepada merekalah kelak estafet ini akan dilanjutkan. Pentingnya menjaga dan melestarikan hutan untuk kehidupan. Bagaimana cara mengenalkan ‘hutan’ kepada anak-anak dan menumbuhkan kesadaran sejak dini? Inilah PR kita semua.

“Bu, di sini ada wifi ngga?”

Aku tergelitik dengan pertanyaan mas Ghazi sore itu. Oh ya, kami sedang menginap di cabin di tengah hutan pinus saat itu. Di Malang baru ada Bobocabin. Tempat staycation baru buat bobo cantik di dalam kabin dan di kelilingi hutan pinus! Keren banget kan. Dan ini baru aja di launching bulan kemarin.

Wah ini salah satu cara asyik mengenalkan #HutanKitaSultan pada anak-anak nih. Sebuah momen yang pas, wisata edukasi sambil liburan. Emang dari kemarin-kemarin mau staycation yang deket-deket aja tapi belum sempat.

Ghazi ini termasuk generasi alpha yang dekat dengan dunia digital. Anak yang melalui masa-masa pandemi dan kerap belajar dengan cara daring. Tentu saja peran internet dan gawai menjadi teman belajar setiap hari. Harus Zoom tiap pagi, mengumpulkan tugas lewat WhatsApp, dan banyak lagi.

Wifi adalah senjata andalan untuk melakukan semua aktivitas tanpa batas. Jadi terang saja dia bertanya hal yang wajar saat di tengah hutan apa ada wifi?

Aku pun membayangkan, “andaikan setiap pohon memancarkan wifi, pasti setiap orang akan menanam pohon kan?”. Bayangkan bagaimana ketergantung manusia pada internet di era digital saat ini.

Padahal faktanya, pohon memiliki fungsi lebih dari itu. Sesuatu yang penting bagi keberlanjutan hidup manusia hari ini, esok, dan seterusnya.

Dengar Alam Bernyanyi, Bobo di Tengah Hutan Pinus

Pandanglah indahnya biru yang menjingga
Simpanlah gawaimu hirup dunia
Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada
Dengar alam bernyanyi

Dalam bukunya Fitrah Based Education, Ust. Harry Santosa mengklasifikasikan fitrah dalam diri manusia menjadi delapan aspek. Salah satunya fitrah jasmani (fisik dan indera), di mana setiap anak lahir dengan pembawaan fisik yang aktif dan suka bergerak. Panca indera-nya senang berinteraksi dengan alam, bumi, dan kehidupan.

Aku membayangkan jamanku dulu, ngga punya gawai juga bisa main di alam bebas bareng temen-temenku. Bahkan aku baru punya HP sendiri ketika baru masuk kuliah. Kenapa anak-anak sekarang jadi pada kecanduan gadget yah? Ini tentu saja karena faktor lingkungan. Paling utama adalah peran orang tua.

Kalau orang tua ngga mengenalkan gadget pada anak, dan punya waktu untuk membersamai mereka, tentu saja akan muncul bonding antara ibu, ayah, dan anak-anaknya.

Simpanlah gawaimu, hirup dunia..

Aku ingin mengenalkan hutan kepada anak-anak. Bukan virtual, bukan hanya lewat buku. Agar mereka bisa bebas berlari, memenuhi rongga dada mereka dengan sebanyak-banyaknya udara bebas polusi, menyalurkan energi mereka untuk dekat dengan alam dan #DengarAlamBernyanyi.

Ngga cuma menunduk menatap layar kecil dari gadget dalam sebuah ruangan indoor dan gerak terbatas.

I want to see without a screen

between

us

and

the world

 

Fakta Hutan #IndonesiaBikinBangga

Hutan hujan tropis
(sumber: Dok. pribadi diambil dari Bandara P. Matak, Kep. Riau)

Negeri kita tercinta Indonesia ini, memiliki luas hutan hujan tropis peringkat ketiga di dunia. Tersebar dari Sumatera hingga Papua.

Indonesia memiliki total luas hutan mencapai 133.300.543,98 hektare. Hal tersebut seperti yang tercatat dari data Direktorat Jendral Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) pada November 2010.

Konsorsium Hari Hutan Indonesia kembali menggaungkan kampanye Hutan Indonesia yang dilaksanakan pada 7 Agustus tiap tahunnya.

Kali ini tema utamanya adalah #HutanKitaSultan. Aku juga cerita pada anak-anak tentang Hari Hutan ini.

Saat anak-anak tanya, “kenapa hutan kita sultan Bu?”

Aku kembali bertanya, “kalau ibu bilang kata ‘hutan’, apa yang ada dalam pikiranmu, mas?”

Ghazi kembali menjawab, “Banyak pohon, Bu. Hijau. Terus banyak suara tonggeret. Aku suka suara tonggeret bu. Terus sejuk, adem. Ada monyet, cacing, elang, burung, banyak ya bu..”

“Nah bener!” seruku.

Bismillah, aku mencoba menjabarkan dengan bahasa yang lebih sederhana. Semoga anak-anak muda ini, anak-anak salih dan salihah generasi penerus bangsa ini mudah memahaminya.

“Hutan kita itu kaya, nak. Ada banyak tumbuhan dan hewan hidup di dalamnya. Bayangkan kalau kita ngga punya hutan, bakal gimana nasib tumbuhan dan hewan di dalamnya? Mereka ngga akan punya tempat tinggal.

Hutan juga menjadi sumber pangan dan obat. Pohon-pohon ini mengeluarkan Oksigen untuk kita bernafas. Bahkan perannya juga menyerap karbon penyebab polusi. Jadi tugas kita yang harus melestarikan hutan ya Mas.”

“Kalau ngga ada hutan, ngga bisa dengerin tonggeret ya bu?”

“Yah, tonggeret ini seperti serangga pemain orkestra di dalam hutan. Kalau mereka ngga punya tempat tinggal terus gimana dong?”

Aku juga menjeskan fakta membanggakan hutan lainnya. Bahwa hutan bukan hanya sekumpulan pohon tanpa makna. Lebih dari itu hutan adalah biodiversity.

1. Hutan adalah Supermarket

(sumber: https://inimulti.com/cerita-jaga-hutan-dan-kearifan-lokal-masyarakat-di-hutan-adat-sungai-utik/)

Bagi masyarakat adat, hutan menyediakan bahan pangan mulai dari buah-buahan, kacang-kacangan, sampai rempah-rempah.

Misalnya Hutan Adat Iban bagi masyarakat Sungai Utik. Tak hanya sekadar hutan yang harus dijaga kelestariannya, namun juga sumber kehidupan.

Tak heran masyarakat Dayak Iban Sungai Utik menyebut kalau hutan adat di wilayah mereka sebagai supermarket.

“Hutan adat ini bagi kami adalah supermarket. Ini juga cadangan kehidupan,” ujar masyarakat Dayak Iban.

2. Asuransi Jiwa

Warga Papua dari keluarga Kladit mengerjakan penggilingan sagu mereka di dalam hutan di Desa Sira, Teminabuan, Sorong Selatan, Papua Barat. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Bagi masyarakat yang tinggal dalam hutan atau sekitar hutan, maka di sanalah mereka mendapat jaminan hidup. Dari hutan mereka mendapat sumber pangan, obat-obatan, sampai masalah perekonomian!

3. Sumber Air

Kamu tahu ngga kalau sumber air minum ½ kota besar dunia seperti New York dan Mumbai berasal dari hutan!

Dari pohon-pohon inilah sumber air bersih yang paling penting untuk kehidupan. Bisa bayangkan ngga kalau kita kehabisan stok air bersih?

4. Hutan adalah Superman

Bagai superhero yang menyelamatkan hidup banyak orang, hutan juga pahlawan perubahan iklim. Saat ini banyak aktivitas manusia yang mengeluarkan karbon. Ini yang membuat bumi makin panas dan disebut perubahan iklim.

Ibarat Superman, hutan mempunyai peran dalam mitigasi perubahan iklim. Pohon-pohon akan mendinginkan udara dengan alami dan menghilangkan polutan.

5. Penyimpan Karbon

hutan penyerap karbon
(sumber: https://www.facebook.com/hutanairlingkungan)

Hutan-hutan Indonesia juga menyimpan karbon yang besar. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan di Indonesia menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan sekitar 20% biomassa di seluruh hutan tropis Afrika.

Kebakaran hutan bukan lagi mengeluarkan karbon dioksida namun juga metana. Metana ini bisa 20x lebih parah daripada karbon dioksida sebagai penyumbang emisi. Di sinilah peran hutan sebagai penyerap karbon. Harapannya penyerapan karbon dioksida bisa membantu mengurangi efek GRK ini.

6. Penyembuh Mental

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku..

Hutan itu bagai candu. Bagaimana tidak, kamu akan mendengarkan suara alam, diterpa angin sepoi-sepoi, dan mendapatkan ketenangan jiwa di alam terbuka.

Ternyata banyak banget ya fakta membanggakan tentang hutan. Setelah mengetahui potensi hutan bagi kehidupan, lantas apa aja sih ancaman terhadap hutan Indonesia saat ini?

Ancaman Hutan Indonesia yang Mengkhawatirkan

Pernahkah kamu berpikir kok di Indonesia menjadi sering banjir, tanah longsor dan puting beliung?

Kondisi yang seharusnya musim kemarau tapi kok jadi sering hujan. Kondisi musim penghujan dan kemarau jadi ngga menentu. Apa yang menyebabkan perubahan iklim?

Benarkah kerusakan hutan ada hubungannya dengan itu semua?

Ya!

Hutan adalah sebuah ekosistem kompleks yang berpengaruh pada setiap spesies hidup di bumi. Berdasarkan data FAO dan UNEP pada The State of the World’s Forests 2020 Forests, biodiversity and people, tak hanya flora dan fauna, 350 juta penduduk dunia pun bergantung pada keberadaan hutan sebagai sumber kehidupan. Jadi saat hutan terdegradasi, maka bencana dalam ranah lokal maupun global akan sering terjadi.

1. Degradasi dan Deforestasi Hutan

(sumber: https://www.globalforestwatch.org/blog/id/data-and-research/data-kehilangan-tutupan-pohon-global-2020/)

Tadi sudah dibahas pada poin hutan #IndonesiaBikinBangga, kalau negeri ini pemilik hutan hujan tropis terluas ke-3 di dunia setelah Brazil dan Kongo.

Tapi dari luasan hutan yang tersisa itu hampir setengahnya terdegradasi!

Sayangnya, hutan Indonesia kini tengah menghadapi ancaman yang serius. Dilansir dari kbr.id, tim peneliti dari Duke University pada 2019 mengungkapkan kalau tingkat deforestasi Indonesia masih sangat tinggi dan mengundang kekhawatiran global.

Deforestasi ini bisa mengancam kehidupan ribuan spesies yang bisa menimbulkan berbagai risiko seperti bencana erosi dan banjir, menurunkan kualitas airm dan menggoyahkan ketahanan iklim global.

Bahkan sejak 1970, penggundulan sudah mulai marak di Indonesia. Tahun 1997-2000 tercatat laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun.

Saat ini diperkirakan luas hutan alam yang tersisa hanya 28%. Kalau tidak ada tindakan apa-apa, cepat atau lambat hutan yang tersisa akan segera punah.

Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Food and Agriculture Organization (FAO) hampir 7,3 juta hektar hutan di seluruh dunia hilang setiap tahun.

Tahukah kamu? data dari Global Forest Watch dengan pencitraan satelit pada tahun 2020 lalu menunjukkan hutan tropis global kehilangan 12,2 juta hektar tutupan pohon.

Dari luasan tersebut, 4,2 juta hektar di antaranya atau setara luas Belanda berada dalam hutan primer tropis basah. Ini sangat penting bagi penyimpanan karbon dan keanekaragaman hayati.

Emisi karbon yang dihasilkan akibat kehilangan hutan primer (2.64 Gt CO2) setara dengan emisi tahunan yang dihasilkan oleh 570 juta mobil. Bayangkan ini lebih dari dua kali lipat jumlah mobil di jalan raya Amerika Serikat.

Jadi kehilangan hutan primer pada 202 ini lebih tinggi 12% dari tahun sebelumnya dan merupakan tahun kedua secara berturut-turut di mana kehilangan hutan primer makin parah di daerah tropis.

(sumber: https://www.globalforestwatch.org/blog/id/data-and-research/data-kehilangan-tutupan-pohon-global-2020/)

Laju kehilangan dan kerusakan hutan pada 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/ jam!

2. Dampak Hutan Makin Rusak, Bumi Makin Panas akibat Karhutla

Sebenarnya Hutan Indonesia tuh penyerap atau pelepas emisi Gas Rumah Kaca?

Kerusakan hutan faktanya melepas emisi GRK terbesar!

Fungsi hutan memang menyerap gas karbon dioksida yang kemudian diubah menjadi oksigen. Nah berkurangnya luas hutan ini bisa menyebabkan pelepasan emisi karbon yang udah diserap oleh hutan.

Bahkan menurut laporan Bank Dunia, Indonesia telah melepaskan 300 ton emisi karbon untuk tiap 1 hektar lahan hutan yang dibuka menjadi perkebunan.

Dalam dekade terakhir, 2015 dan 2019 menjadi tahun terburuk kebakaran hutan dan bencana kabut asap. Kebakaran 2015 nyatanya melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer dibandingkan dengan total emisi tahunan negara ekonomi terbesar seperti Jepang dan Inggris.

(sumber: https://katadata.co.id/timrisetdanpublikasi/berita/5e9a5039bc0c5/kebakaran-hutan-di-indonesia-sebabkan-kematian-hingga-malaysia-dan-singapura)

Kebakaran hutan dan lahan yang terkadi di Indonesia pada akhir tahun 2015 bukan hanya sekadar bencana yang menghanguskan pepohonan, merusak ekosistem hutan, dan menyemburkan emisi karbon ke udara, namun juga sebuah tragedi kemanusiaan.

Kabarnya 24 orang meninggal dunia, lebih dari 600 ribu orang menderita ISPA dan sekitar 60 juta orang terpapar asap. Bahkan sekitar 600 komunitas adat dan masyarakat lokal yang hidup dalam dan sekitar hutan terpaksa harus mengungsi.

Di sektor pendidikan, kabut asap melumpuhkan aktivitas belajar dan mengajar yang menyebabkan 4,7 juta sisawa tak bisa belajar akibat ditutupnya 24.773 sekolah. Bahkan 35 bandara terpakasa harus menghentikan operasinya selama puncak peristiwa kebakaran.

(sumber: https://katadata.co.id/jeany/infografik/5f33d59648f9e/karhutla-kembali-ancam-indonesia)

Kebakaran hutan 2019 juga melepaskan emisi GRK yang tinggi melebihi emisi 2015. Setidaknya 708 juta ton emisi GRK yang hampur dua kali lipat lebih besar daripada kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CAMS, 2019).

Dampak karhutla ini meliputi terdegradasinya kondisi lingkungan, kesehatan manusia, pendidikan, dampak pada satwa sampai industri pariwisata dan sektor bisnis lainnya. Tapi banyak cerita dibalik peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang tak diketahui masyarakat luas. Cerita yang kerap didengar adalah faktor alam dan musim kemarau panjang, ketidaksiapan aparat dalam mengantisipasi kebakaran hutan.

Cara Asyik Mengenalkan dan Mengajak Anak Menjaga Hutan

Anak-anak adalah copy cat ulung. Mereka belajar dari meniru orang dewasa di sekitarnya. Apalagi saat ini anak-anak sudah masuk era “Digital Family”, yah karena mencontoh orang tuanya yang lebih sering ngobrol dengan gadget.

Satu prinsip yang harus kita pegang:

It takes a village to raise a child!

Bukan hanya dari orang tua, tapi ibaratnya butuh orang se-kampung untuk membentuk karakter dan kepribadian seorang anak. Dari mereka para orang dewasa lah anak-anak akan meniru dan belajar.

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dalam menjaga hutan?

1. Membaca Buku Bersama Tema Hutan

(sumber: dok. pribadi)

Benar kalau buku adalah jendela dunia. Lewat buku, anak-anak bisa menjelajah dunia dan tak dimungkiri kalau buku menjadi tanda kemajuan peradaban manusia.

Sebelum mengajak anak-anak langsung ke hutan, aku mulai briefing dengan mengenalkan hutan lewat buku. Di sana, aku merangsang imajinasi mereka dan membuat mereka bertanya banyak hal.

(sumber: dok. pribadi)

Kami juga bisa melanjutkan dengan dongeng edukasi, misalnya aku membuka sebuah kalimat, “pada suatu hari, ada seekor elang dalam sebuah hutan..”

Anak-anak bisa melanjutkan kisah ceritanya. Pasti seru!

2. Permainan Tradisioanal Tentang Hutan

Anak-anak paling suka belajar sambil bermain, apalagi saat ini kan kurikulum merdeka belajar hehe.

Misalnya bermain Gancetan, permainan yang dilakukan dengan menautkan tumit masing-masing pemain. Nanti sambil bermain bisa sekalian mengenalkan tembang daerah. Jadi tanpa kekompakan, keseimbangan bisa hilang.

Permainan tradisional juga bisa memudahkan anak-anak belajar pendidikan karakter. Anak-anak bisa memahami kekuatan diri, kekuatan teman atau orang lain, dan memahami perbedaan.

Hampir semua permainan tradisional itu dekat dengan alam. Terlihat dari sumber daya yang digunakan seperti batu, pasir, tanah, air, daun, dan rerunputan.

Kearifan lokal juga tampak dari tembang Gundul-Gundul Pacul. Dari lagu itu anak-anak bisa memaknainya sebagai tempat berpikir menganalisis, dan mengambil sikap.

Gundul-gundul pacul cul gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Gembelengan berarti banyak tengok atau tak fokus. Wakul diibaratkan sebagai tempat menampung amanat.

Aku bilang ke anak-anak, “kalau nyunggi wakulnya ngga fokus, nasinya bisa tumpah. Artinya kalau dilimpahi air yang baik, hutan juga akan baik, tapi karena pemimpinnya gembelengan, ya hasilnya ngga bisa dinikmati rakyat.”

Jadi pemimpin harus amanat agar bisa mengayomi rakyat dan tak kehilangan mahkota kemimpinnya. Dalam hal ini bisa lebih memperhatikan kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan. Rakyat juga bisa menikmati sumber daya alam dan kekayaan bumi pertiwi.

3. Kampanye Jaga Hutan

(sumber: https://www.radioidola.com/2021/mengenal-sumini-sang-penjaga-hutan-kampung-damaran-baru-aceh/)

Siapapun kamu, tak perlu menunggu menjadi ahli kehutanan atau aktivis lingkungan buat berbagi info tentang hutan kita saat ini. Kita bisa saling bergandeng tangan untuk melestarikan hutan bersama-sama.

Kalau anak-anak belum bisa melakukan kampanye, ceritakan pada mereka kisah heroik para ”penjaga hutan”. Ceritakan tentang masyarakat adat yang berjuang menjaga hutan karena itulah sumber kehidupan mereka.

Aku juga menceritakan tentang kisah para perempuan penjaga hutan Aceh alias Ranger. Mereka berpatroli keluar masuk hutan buat menghadapi para perambah hutan, dan pelaku penebangan liar.

Ibu Sumini bersama Lembaga Pelindung Hutan Jampung Uteun aktif berpatroli 251 hektar hutan di Desa Damaran Baru, Kabupaten Bener Meriah, bagian dari 1 juta hektar kawasan Leuser.

Aku juga sering ngobrol ke anak-anak kalau ibu mereka juga sering melakukan kampanye menjaga hutan lewat tulisan. Ibunya juga peduli tentang masalah perubahan iklim sampai dampak kebakaran hutan dan lahan.

Justru belajar dari orang terdekat, dari contoh yang diperlihatkan langsung, biasnaya anak-anak bisa lebih mudah belajar.

Harapannya tumbuh kesadaran mencintai hutan sejak dini dan mengakar agar senantiasa menjaganya sampai mereka bisa melakukan kampanye mereka sendiri.

4. Konsumsi Hasil Hutan

(sumber: dok. pribadi)

Hutan adalah supermarket sumber kehidupan. Didalamnya banyak bahan baku yang subur karena hidup dari air bersih dan keanekaragaman hayati.

Namanya selai kerben. Aku berkesempatan mencobanya. Jujur aku baru tahu kalau Indonesia memiliki arbei lokal yang rasanya manis dan asam dalam sekali kecap. Rasanya lebih seperti gabungan antara strawberry dan rapsberry.

Buah kerben merupakan sejenis beri-berian yang tumbuh di Desa Suko Pangkat, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi. Buah ini tergolong tanaman liar yang ngga ditanam secara sengaja

Karena buahnya yang melimpah sepanjang tahun, maka ibu-ibu mengolahnya menjadi selai. Selai kerben dan hutan yang dikelola dengan baik akan memberikan kehidupan lebih baik untuk masyarakat Suko Pangkat dan sekitarnya.

Anak-anak juga suka banget selainya karena emang rasanya manis dan asam jadi satu. Cocok buat dipadukan roti tawar untuk bekal sekolah. Aku juga cerita bagaimana kisah buah kerben ini bisa sampai ke Malang.

Di sinilah peran kita untuk turun tangan dan ikut mengenalkan hasil hutan non kayu agar dikenal luas. Konsumsi hasil hutan yang lestaru, akan mendukung produksi masyarakat membantu pelestarian hutan. Dengan begitu, pembukaan hutan baru untuk perladangan bisa diminimalkan.

Oh ya, dengan membeli produk Suko Selai ini kamu telah membantu masyarakat menjaga hutannya 🙂

5. Jalan-jalan ke Hutan

(sumber: dok. pribadi)

Kalau membaca buku adalah jendela dunia, saatnya kini kita jalan-jalan ke hutan.

Yahh, because seeing is believing!

Setelah berimajinasi lewat buku, sudah seharusnya merealisasikan bayangan anak-anak menjadi kenyataan. Mengajaknya benar-benar berlarian ke dalam hutan, menghirup udaranya, menjejakkan kakinya, mendengarkan bisikan nyanyian alamnya, menikmati suara tonggeretnya, dan menyapa masyarakat yang tinggal di daerah sana.

6. Mengenalkan Adopsi Hutan

Hah hutan bisa diadopsi?

(sumber: https://hutanitu.id/donasi/pg/adopsihutan)

Iya pohon bisa diadopsi langsung dari hutan. Apalagi pohon besar yang tegak dan bahkan ngga bisa dipeluk pleh satu orang karena batangnya udah sangat besar.

Kini saatnya #TeamUpForImpact, tak cuma orang dewasa tapi juga mengajak anak-anak turut andil  #UntukmuBumiku. Tunjukkan pada anak-anak kalau mereka bisa juga memberi sumbangsih berdonasi ke lembaga pengelola hutan untuk ikut menjaganya dari rumah. Anak-anak pasti senang kalau ikut dilibatkan dalam mengadopsi hutan.

7. Merayakan Hari Hutan Indonesia

(sumber: https://2022.harihutan.id/)

Peringatan Hari Hutan Indonesia diperingati setiap 7 Agustus tiap tahunnya. Perayaan Hari Hutan ini merupakan inisiatif dan kolaborasi dari 27 anggota lintas organisasi. Semua organisasi yang tergabung memiliki kesadaran dan misi untuk berkomitmen penuh dalam upaya pelestarian hutan Indonesia.

Mengenalkan anak-anak pada satu hari khusus, yaitu Hari Hutan untuk memfokuskan semua mata, pikiran, dan usaha masyarakat Indonesia dalam menjaga hutan agar tetap kaya.

Tahun ini mengusung tema “Hutan Kita Sultan” sebagai pemantik bagi masyarakat luas akan kesadaran upaya pelesetarsian hutan Indonesia. Peringatan Hutan Indonesia tahun ini dipusatkan di hutan Kota Kemayoran – Jakarta.

Anak-anak juga bisa diajak berbagi pendapat tentang hal ini. Dengan adanya Hari Hutan, minimal sehari dalam setahun ada hari khusus membicarakan hutan secara positif, tak melulu kebakaran, kerusakan, konflik, melainkan kampanye kreatif dan aksi kolaboratif. Tujuannya membuat isu hutan lebih dikenal, dan lebih diperhatikan lagi.

Dengar Alam Bernyanyi, Anak Muda Harus Peduli Kondisi Bumi

Belajar lewat lagu ternyata memiliki sejuta manfaat positif bagi anak. Tak hanya soal lirik dan nada, tapi makna dalam sebuah lagu juga bisa mengajarkan anak tentang banyak hal positif.

Sebuah penelitian oleh Brain and Creativity Institute dari University of Southern California, AS mengungkapkan fakta mendengarkan musik sejak masa kanak-kanak akan membuat perkembangan otak terutama di bidang bahasa jauh lebih cepat.

Sekarang tuh banyak banget lagu dewasa yang kurang baik didengarkan anak-anak malah banyak didengarkan. Anak-anak yang mudah sekali hapal karena otaknya yang mudah menyerap seperti spons jadi ikutan menyanyi lagu orang dewasa yang kurang mendidik bagi anak-anak. Agak miris juga.

Untuk mengajarkan kebiasan baik pada anak juga bisa lewat lagu. Maka, aku juga mengenalkan lagu “Dengar Alam Bernyanyi” yang bahasanya mudah, easy listening, dan sarat makna.

Apalagi video musik Dengar Alam Bernyanyi ini menghadirkan Laleilmanino dan teman-temannya dalam konsep animasi yang disukai anak-anak.

Konsepnya juga sederhana, ada Chicco Jerikho yang berperan sebagai pohon. Pohon itulah guardian kita.

Bila kau jaga aku
Ku jaga kau kembali
Berhentilah mengeluh
Ingat, kau yang pegang kendali
Kau yang mampu obati
Sudikah kau kembali?

Aku bilang ke anak-anak, “Kalau kita jaga pohon ini, dia juga akan menjaga kita. Jangan main HP terus, lihat awan di atasmu, dengarkan suara alam di sekitarmu, peluk angin yang menghempas tubuhmu, dengarkan bisik mesranya.. dengar alam bernyanyi..”

Yuk kamu juga ikut dengerin lagu Dengar Alam Bernyanyi, ajak anak-anakmu, keluargamu, teman-temanmu dan siapa saja buat mendengarkan lagu ini.

Semakin banyak yang mendengarkan, akan semakin banyak royalti yang digunakan untuk perlindungan hutan di Indonesia. Kamu juga turut berkontribusi untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan.

Di mana dengerin lagunya?

Kamu bisa dengerin lewat Youtube di atas, atau berbagai platform musik seperti Spotify dan Apple Music.

Dengerin bareng-bareng yukkk..

Penutup

“Hutan kita adalah pinjaman anak cucu kita, bukan warisan nenek moyang kita.”

Jika hutan yang ada di negera kita rusak, apa yang akan kita berikan pada generasi penerus kita nanti? Keberadaan hutan sebagai biodiversity memiliki peran penting bagi masa depan kita. Kita ngga bisa bergerak sendirian.

Tugas kita pula menyampaikan pesan pada anak muda, anak-anak, pada siapa saja untuk mengambil peran menjaga hutan. Dengar alam bernyanyi, mari bersama-sama menjaga hutan untuk masa depan anak cucu nanti.

Referensi:

Trinirmalaningrum, dkk. 2015. “Di Balik Tragedi Asap: Catatan Kebakaran Hutan dan Lahan 2015”. Jakarta Pusat: www.perkumpulanskala.net.

Auriga Nusantara. 2022. “Bencana Tahunan Kebakaran Hutan dan Lahan”.

https://hutanitu.id/hutan-kita-sultan-jadi-pesan-utama-perayaan-hari-hutan-indonesia-7-agustus-tahun-ini/

https://medialingkungan.com/hutan-adat-supermarket-masyarakat-dayak-iban/

https://www.its.ac.id/news/2020/11/21/menilai-kelayakan-hutan-indonesia-sebagai-paru-paru-dunia/

https://kbr.id/nasional/02-2019/10_penyebab_deforestasi_di_indonesia__dari_sawit_hingga_lapangan_golf/98797.html

https://lindungihutan.com/blog/9-dampak-kerusakan-hutan-bagi-manusia/

https://m.facebook.com/936575943057238/photos/peran-karbon-hutan-dalam-perubahan-iklimhutan-menjadi-krusial-bagi-upaya-global-/3925727564142046/

https://www.fao.org/documents/card/en/c/ca8642en

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55300012

https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/5596/menyemai-ketahanan-pangan-lewat-sagu/

https://mounture.com/cerita-petualang/ini-kawasan-penyebaran-hutan-hujan-tropis-di-indonesia/

https://inimulti.com/cerita-jaga-hutan-dan-kearifan-lokal-masyarakat-di-hutan-adat-sungai-utik/

https://www.globalforestwatch.org/blog/id/data-and-research/data-kehilangan-tutupan-pohon-global-2020/

https://tirto.id/menolak-lupa-karhutla-hebat-2015-f6AE

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Kurniawans adalah sebuah catatan keluarga, jelajahi kisah pengasuhan, perjalanan, dan semua cerita menyenangkan.

34 Comments

  • Nurul Sufitri

    Aku suka deh sama lagu ‘Dengar Alam Bernyanyi’ yang easy listening dan membuat masyarakat semakin sadar akan kelestarian hutan dan alam sekitar. Berbagai ancaman terhadap hutan memang seakan tak pernah usai. Untuk itulah kita dan pemerintah sama2 saling berkontribusi mulai dari hal sederhana dilakukan dari rumah demi melestarikan lingkungan. Keren mak artikelnya lengkap dan menginspirasi. Good luck ya 🙂

    • thekurniawans

      Bener mba, kita sama2 bergandeng tangan, berkontribusi dan mengambil peran bareng pemerintah, mengenalkan pada anak-anak juga untuk terus menjaga hutan 🙂

  • HM Zwan

    Kalau ngomongin soal kebakaran hutan, aduh aku jadi flashback waktu tinggal di Sial Riau. Hampir setiap tahun selalu ada kebakaran hutan, yang paling kerasa buat anak, efeknya mereka libur sekolah berhari-hari. Betul banget mbak, hutan kita ini kaya banget, kayak supermarket. Apa aja ada didalam hutan

  • Lisdha www.daily-wife.com

    Mbak keren sekali paparan untuk mengenalkan hutan pada anak.. I’m amazed..
    Sebenernya di sekolah dasar pun anak2 sudah dapat pelajaran lingkungan, salah satunya ttg hutan yaaa…
    Tapi ya itu, ketika tidak ada aksi nyata/praktik, pelajaran tinggal pelajaran. Jadi memang penting banget utk membawa anak2 ke lingkungan hutan, setidaknya hutan kota/hutan lindung. Karena kalau ke hutan belantara, bahaya juga kali ya hehehe..

    • thekurniawans

      Nah itu dia kalau teori aja kan kadang anak-anak ngga bisa merasakan vibesnya saat beneran turun ke hutan yah huhu.
      Nah seenggaknya minimal ke hutan kota, semoga ada yah di tiap kota.

  • Lia Yuliani

    Dengar alam bernyanyi lagunya merdu dan liriknya juga bagus. Mengajak untuk peduli terhadap kelangsungan dan kelestarian hutan. Banyak cara untuk mengenalkan pentingnya hutan pada anak. Membacakan buku dan mengajak mereka melihat langsung hutan cara yang cukup efektif.

    • Yurmawita

      Perlu banget nih mengenalkan hutan ke anak anak, mereka mungkin tidak familiar dengan hutan lantaran zaman gen z namun kita masih bisa mengajak mereka ke berbagai tempat yang asri, seperti taman hutan raya dan mengajak mereka melestarikannya

  • Tanti Amelia

    sedih juga ya liat tulisan di buku anak itu, “apakah hutan akan punah?”
    berarti anak-anak sedari kecil sudah tertanam bahwa kita ini sudah di tepi jurang 🙁
    jika tidak dari awal disadarkan hadeeeeh … anak akan beranggapan hutan kita masih kaya raya padahal sudah kritis

    • thekurniawans

      Nah itu dia, kalau mereka ngga ngerti gimana masa depan hutan ke depannya ya hutan akan punah dong kalau ngga ada yange melestarikan. Iya kan? Sedih nih jadinya..

  • Mega Rachmawati

    Baca tulisan ini disadarkan lagi kalo keindahan alam indonesia gak cuma terletak sama pantai dan gunung. Tapi ada hutannya juga loh yang nyempil ditengah2nya yang kadang kurang dihiraukan. Kaya jalan-jalan di hutan sambil jogging gitu bikin healing banget. Semoga kita dan penerus kita bisa sama2 menjaga keberlangsungan hutan di Indonesia ya mak

  • Hidayah Sulistyowati

    Masyarakat yang menjaga adat bagi kelestarian hutan di Indonesia, seperti Sungai Utik ini patut dapat suport yang besar dari semua pihak. Karena mereka kadang mendapat banyak hambatan dari berbagai pihak yang ingin menggunduli hutan demi cuan.

    Ngajak anak-anak camping juga sebagai salah satu cara agar mereka menghargai kelestarian alam ya. Anak-anak jadi bisa bebas menghirup udara segar yang belum tercemar polusi

    • thekurniawans

      Iya mba, apalagi belum ada pengesahan RUU Adat tuh. Makanya kasihan juga mereka sering termarjinalkan.
      Heemmm, anak2 suka banget camping tipis2 gini hehehe.

  • indah savitri

    hutan yang asri, indah dan terjaga adalah paru – paru dunia. Mari kita kenalkan kepada anak – anak kita dan kenalkan tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya

  • Dennise Sihombing

    Aku baru dengar nih selai kerben, di supermarket sudah ada belum ya mom? rasanya pasti enak ya asam-asam manis. Senangnya ya membawa anak-anak bermain ke hutan. Ini membuat mereka bisa berempati dengan alam dan kelak mencintai alam

    • thekurniawans

      Nah itu dia, aku juga belum nemu kerben di supermarket. Makanya penasaran banget, emang asam manis gimana gituuu

  • Lidha Maul

    Saya tu suka hutan karena sejak kecil diajak main ke hutan. Dulu sih fokus ke senang2nya aja, udah gede baru mulai terbangun kesadaran. Bawa buku-buku baca di alam terbuka memang enak banget kok. Mendidik anak sejak dini tuk cinta hutan dan alam ini

  • Firsty Ukhti Molyndi

    setuju sama kalimat penutupnya : “Hutan kita adalah pinjaman anak cucu kita, bukan warisan nenek moyang kita.”

    tapi gimana ya generasi kita aja sekarang hutan udah digunduli terus menerus ? apalagi zaman anak cucu kita nanti 🙁

  • Bibi Titi Teliti

    Setuju banget dengan quote terakhir bahwa hutan ini pinjaman dari anak cucu kita, bukan warisan dari nenek moyang jadi harus kita jaga dengan baik yaaah. Semoga makin tinggi kesadaran kita semua untuk menjaga hutan agar tetap lestari yaah

    Emang nih anak2 tiap diajak bepergian pasti ribet nanyain wifi yah, anak2ku juga sama nih.

    • thekurniawans

      Iya tugas kita juga ya mba untuk selalu menjaga hutan sambil ngingetin anak-anak.
      wkwkwk iya sama nyari wifi mulu deh.

  • momtraveler

    jadi teringat waktu SD aku tinggal di Kalimantan Barat mbak waktu itu hutan masih lebat, udaranya bersih banget meskipun panas tapi banyak pepohonan tinggi, suara burung, monyet dan macem2 jadi musik setiap harinya jadi sedih aja kalo ada berita karhutla. membanyangkan hutan di kalimantan kian menipis gmn nanti kalo anak2 udah gedhe sementara bener banget katamu hutan luas itu kita pinjam dari mereka. semga dengan adanya campaign ini jadi makin banyak yg sadar betapa pentingnya hutan buat kehidupan kita ya
    btw aku suka banget lagunya mbak liriknya juga kece

    • thekurniawans

      Nah kan, padahal yang di Kalimantan aja udah pada ngeluh begitu. APalagi yang di Jawa. Udah pada gundul. Tapi sekarang kan Kalimantan mau jadi gerbang IKN. Gimana dong mbaa.

  • Eri Udiyawati

    Sudah saatnya kita peduli dengan hutan kita. Jangan sampai hutan kita makin rusak dan tak bisa menjadi harapan kita.

    Selain itu, mengajak sesama untuk mengadopsi hutan dan makin semangat menanam pohon.

    Semoga hutan di negara kita tak makin rusak. Miris lihatnya, apalagi kalau ada kebakaran hutan. ☹

  • Dian

    Hutan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia
    Karena itu wajib dijaga bersama ya mbak
    Salah satu caranya ya dengan berdonasi mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi ini

  • Ade UFi

    Saya suka lagu ini nih.. Pas beberapa kali seliweran di sosmed saya. Lagunya ringan dan enak memang kalau dipakai buat ke alam gitu.

  • Gusti yeni

    Lagunyaa aku sukaa banget sering aku putar dan pakai buat background video aku ketika explore alam.
    Semoga alam kita tetap terjaga buat generasi mendatang yaa

  • Rahmah

    Aku baru ngeh kalau ada adopsi hutan
    Bakalan mau cari tahu lebih banyak soal adopsi ini agar jadi bahan diskusi dengan anak anak
    Seru kalau punya “anak” meski wujudnya hutan

  • Sri Widiyastuti

    Iya mbak, dampak kebakaran hutan dan jerebu (asap) sampai di Malaysia. Saya pernah merasakan sesaknya waktu tinggal di Malaysia, padahal kita jauh ya dari Indonesia, tapi setiap tahun pasti saja kena dampak asap dari kebakaran hutan gambut sampai ke malaysia. Dengan menjaga kelestarian hutan, hutan juga akan menjaga manusia dari kerusakan ya mbak.

  • ANTUNG APRIANA

    ngomongin soal sinyal saya jadi ingat video yang anak-anak nggak mau ikut mudik karena di kampung orang tuanya nggak ada sinyal. hehe. kalau saya juga ada niat nih mengajak anak-anak jalan-jalan ke tahura buat mengenalkan mereka sama hutan. semoga saja nanti bisa kesampaian dan mereka juga jadi paham soal pentingnya menjaga hutan kita agar tetap lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published.