
Ada fase dalam hidup ketika kita tidak sedang kekurangan apa-apa secara nyata, tetapi hati tetap terasa seperti ruang kosong yang gema suaranya terlalu keras untuk diabaikan. Belakangan ini aku sering berada di fase itu. Hari-hariku berjalan biasa saja. Aku masih bisa tertawa, masih bisa bekerja, masih bisa bercakap-cakap dengan orang lain seolah semuanya baik-baik saja. Namun di sela-sela itu, ada sesuatu yang diam-diam tumbuh dalam diriku: perasaan tertinggal.
Perasaan itu biasanya datang tanpa aba-aba. Kadang muncul saat aku sedang menggulir media sosial sebelum tidur. Aku melihat seorang teman mengunggah foto umroh bersama keluarganya. Wajahnya terlihat teduh, matanya berbinar, dan caption yang ia tulis penuh rasa syukur. Aku ikut merasa senang untuknya, tetapi di saat yang bersamaan muncul pertanyaan kecil yang sulit dibungkam: kenapa aku belum sampai di sana?
Belum selesai dengan pertanyaan itu, aku melihat unggahan lain. Ada pasangan yang merayakan anniversary pernikahan mereka di Jepang. Foto-fotonya indah dengan cara yang sederhana. Mereka terlihat seperti dua orang yang berhasil menemukan rumah di dalam diri satu sama lain.
Aku memandangi foto itu cukup lama, bukan karena aku iri pada negaranya atau perjalanan wisatanya, tetapi karena mereka tampak begitu utuh. Seolah hidup mereka bergerak ke arah yang jelas sementara aku masih berkutat dengan banyak hal yang bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya.
Lalu ada teman lain yang sudah memiliki anak, membangun bisnis, bekerja dari rumah, dan tetap terlihat mampu menikmati hidupnya. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana orang-orang bisa menjalani begitu banyak peran sekaligus tanpa terlihat hancur? Sementara aku terkadang merasa kehabisan tenaga hanya untuk membereskan isi kepalaku sendiri.
Dan dari semua hal yang menggangguku, mungkin yang paling membuatku gelisah adalah kenyataan bahwa aku mulai merasa sangat duniawi.
Aku mulai mengukur hidup dari pencapaian yang bisa dilihat. Dari perjalanan ibadah yang belum sempat kulakukan. Dari penghasilan yang belum stabil. Dari kehidupan rumah tangga orang lain yang belum kumiliki.
Dari penghasilan pribadi yang belum memberiku rasa aman. Aku membandingkan diriku dengan kehidupan orang lain tanpa sadar, lalu merasa bersalah setelahnya. Seolah aku telah berubah menjadi manusia yang terlalu terobsesi pada hal-hal duniawi, padahal dulu aku merasa diriku cukup sederhana.
Aku pernah menjadi seseorang yang mudah merasa cukup. Duduk sore sambil minum teh hangat sudah terasa menenangkan. Mengobrol lama dengan orang yang kusayangi sudah cukup membuat hari terasa penuh.
Namun entah sejak kapan, hidup terasa seperti perlombaan yang diam-diam menyeretku untuk terus melihat ke samping. Media sosial membuat semuanya terlihat begitu dekat sekaligus begitu jauh. Kita bisa melihat kehidupan orang lain setiap hari, tetapi tidak pernah benar-benar tahu bagaimana mereka bertahan melewati hari-hari sulitnya.
Mungkin itulah yang sering kulupakan.
Aku melihat hasil akhir hidup orang lain tanpa pernah menyaksikan proses panjang yang mereka lalui. Aku melihat seseorang akhirnya berangkat umroh, tetapi tidak melihat doa-doa panjang yang mungkin mereka panjatkan di tengah kesulitan hidupnya.
Aku melihat bisnis yang berkembang, tetapi tidak melihat malam-malam penuh kecemasan ketika mereka takut usahanya gagal. Aku melihat keluarga yang tampak harmonis, tetapi tidak melihat pertengkaran, kelelahan, dan air mata yang mereka simpan rapat-rapat di balik pintu rumah mereka.
Sementara itu, aku terlalu sibuk menghakimi diriku sendiri hanya karena merasa tertinggal.
Padahal jika dipikir lebih dalam, mungkin aku bukan sedang menjadi manusia yang terlalu duniawi. Mungkin aku hanya lelah. Lelah hidup di zaman ketika semua orang berlomba terlihat baik-baik saja.
Lelah karena tanpa sadar aku terus membandingkan perjalanan hidupku dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain. Yah, sekeping yang mereka tunjukkan lewat media sosial bahkan tak bisa menggambarkan semua hidup mereka.
Aku mulai sadar bahwa rasa iri sering kali bukan lahir dari kebencian. Kadang rasa iri muncul karena ada bagian dalam diri kita yang diam-diam sedang merasa kehilangan arah. Kita tidak benar-benar ingin menjadi orang lain, kita hanya ingin merasa bahwa hidup kita juga bergerak menuju sesuatu yang berarti.
Dan mungkin selama ini aku terlalu keras kepada diriku sendiri.
Aku memaksa diriku untuk segera berhasil, segera tenang, segera menemukan arah hidup, hanya karena melihat orang lain tampak sudah sampai lebih dulu.
Aku lupa bahwa hidup tidak pernah berjalan dalam garis waktu yang sama untuk setiap orang. Ada orang yang menemukan cintanya di usia muda, ada yang menemukannya setelah melewati banyak kehilangan. Ada yang sukses membangun karier sejak awal, ada yang baru memahami tujuan hidupnya setelah berkali-kali merasa gagal.
Tidak semua hal harus datang secepat itu.
Malam ini aku akhirnya memahami satu hal kecil yang sebelumnya sulit kuterima: barangkali hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap berjalan meski sering merasa tertinggal.
Dan mungkin aku sedang belajar itu sekarang.
Belajar menerima bahwa tidak apa-apa jika hidupku belum terlihat hebat. Tidak apa-apa jika jalanku masih lambat. Tidak apa-apa jika saat ini aku masih sering bingung, masih sering membandingkan diri, masih sering merasa takut akan masa depan.
Karena menjadi manusia ternyata memang melelahkan. Kita bisa bersyukur sekaligus merasa kurang dalam waktu yang bersamaan. Kita bisa ikut bahagia melihat orang lain berhasil, tetapi diam-diam mempertanyakan hidup sendiri setelahnya.
Namun aku tidak ingin terus hidup dengan membenci diriku sendiri hanya karena perjalananku berbeda.
Pagi ini aku mendengarkan ust. Rifky Jafar Thalib yang makjleb. Beliau bertanya, “miskin itu di mana? jawabannya di mata..”
Jadi kalau mata tidak ditundukkan, memang hatinya akan sumpek. Lihat ini pengen, lihat itu pengen. Padahal, tamanku dan kebun indahku itu tersimpan di dalam hati.
Maka salat yang baik, puasa istiqamah, Al Qur’an jangan ditinggal, istiqamahkan dzikir, maka insya Allah nikmat. Dan Allah akan penuhi dengan kecukupan..
“Wahai hamba-Ku, kosongkan waktumu untuk ibadah kepada-Ku”
Apa jaminan Allah? Maka akan Aku penuhi hatimu dengan kekayaan.
Aku ingin belajar percaya bahwa hidupku pun sedang menuju sesuatu. Meskipun sekarang bentuknya belum terlihat jelas. Meskipun hari-hariku belum dipenuhi pencapaian besar seperti orang lain. Meskipun aku masih sering merasa kecil di tengah dunia yang bergerak begitu cepat.
Barangkali, tumbuh memang tidak selalu terlihat indah. Kadang ia hadir dalam bentuk kebingungan panjang, doa-doa yang belum terjawab, dan hati yang terus belajar menerima kenyataan sedikit demi sedikit.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ingin berhenti bertanya kenapa hidup orang lain terlihat lebih baik.
Aku hanya ingin belajar memeluk hidupku sendiri dengan lebih lembut.